Daulat Sinaga, 50 tahun
Pondok BambuJakarta Timur
Empat tahun lalu, sekitar Mei 2001 Daulat Sinaga mendadak terkena serangan Jantung. "Penyakit ini memang selalu mengintip semua orang," kata Daulat. Sebelum terkena serangan, Sinaga mengaku tidak pernah mengeluh.Hanya saja, sejak muda Sinaga sudah menjadi perokok berat dan peminum alkohol. Rokok Ji Sam Soe bisa habis dua bungkus sehari. Seminggu sekali pasti minum alkohol. Minum kopi sehari minimal dua gelas. Semua itu dilakukan sepanjang hidupnya sampai suatu hari sekitar jam 6 sore, pulang dari acara arisan.Saat itu, ia sedang merokok sambil minum kopi. Tiba-tiba Sinaga merasakan bagian antara perut dan dada sebelah kiri terasa sangat sakit, seperti tersedot. Tubuh langsung lemah dan tidak bisa berdiri, karena menahan sakit.Merasa ada masalah serius, Sinaga ditemani istrinya berangkat ke RS Persahabatan Di dalam Taksi ber-AC yang begitu dingin, tubuh Sinaga berkeringat deras. Sinaga mulai khawatir, mulai dihantui penyakit yang mematikan, Jantung. Setelah sampai di UGD RS Persahabatan, dan diperiksa, perawat menyatakan bahwa Sinaga terkena serangan Jantung. Setelah diperiksa, detak Jantung Sinaga mulai lambat.
Sinaga pun disarankan langsung ke RS Harapan Kita dengan Ambulan 118 yang dilengkapi alat-alat ICU.Dengan kondisi ini, maka dokter dan paramedic memberikan perlakuan agar Jantung Sinaga tidak berhenti. Termasuk fisioterapi agar darah tetap bisa mengalir ke otak, supaya Sinaga tidak kolaps.Sinaga pun harus menebus obat suntik seharga empat juta untuk meningkatkan kemampuan detak jantung yang tetap lemah. Tetapi, ternyata tidak banyak membantu. Sinaga pun harus menggunakan alat pacu jantung.Saat itu, Sinaga sudah membayangkan bahwa usianya tidak panjang lagi. Sinaga hanya berdo’a saja. la pun berbicara dengan istrinya, bahwa dirinya tidak mau dioperasi, karena biayanya sangat mahal, sekitar 75-100 juta. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk anak-anaknya yang saat bersamaan, ada yang masuk Kuliah, ada yang masuk SMA, dan ada masuk SMP.Setelah alat pacu Jantung terpasang, Sinaga pun bisa bernafas lebih lega. Selama perawatan di RS Harapan Kita, 7 hari di ICCU, dan 6 hari di ruang perawatan, Sinaga menghabiskan uang sekitar 30 Juta. " Saya telah membuktikan, bahwa kesehatan itu sangat mahal” kata Sinaga.
Dokter menganjurkan Sinaga untuk operasi, karena ada penyempitan di beberapa pembuluh darahnya. Tetapi, Sinaga menolak, dia hanya ingin, solusi alternatif. Selain menjaga makanan, tidak lagi minum alkohol, aktifitas lain yang harus dihindari.Sinaga dilarang mengangkat beban lebih dari 5 kg. Dilarang mengedan saat buang air, dilarang naik ke lantai dua melalui tangga. Dan, harus minum obat seumur hidup. "Obat tersebut untuk mengencerkan darah Sinaga, agar aliran darahnya bisa lebih lancar," kata Sinaga. Yang membuat Sinaga kaget, adalah obat tersebut berefek cukup berat. Bisa mengakibatkan lambung bocor. Jika ini terjadi, Sinaga harus kembali lagi untuk ditambal. Setelah tiga tahun mengkonsumsi obat tersebut, lambung mulai terasa perih. " Saya hanya minum obat maag untuk mengatasi?keperihannya," kata Sinaga.Lalu, Sinaga dikenalkan Tianshi. Setelah membaca salah satu produk, yakni Vigor, la mulai tertarik. la pun mengkonsumsi Kalsium dan Vigor secara rutin. Setelah sekitar dua sampai tiga bulan, Sinaga merasakan lebih nyaman.Lalu, aktifitas naik tangga, mengangkat beban sudah tidak menjadi masalah. Lalu, saat itu pula obat dokter mulai ditinggalkan. Dan sudah enam bulan Sinaga tidak lagi control. Apalagi setiap periksa harus mengeluarkan uang sekitar 600 ribu rupiah.Setelah mengkonsumsi Tianshi selama enam bulan, Sinaga pun memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter yang selama ini menangani penyakitnya. Dokter tersebut menyatakan jantung Sinaga dalam kondisi baik.Ia mengaku bahwa sudah tidak mengkonsumsi obat, dan memberitahukan jenis produk Tianshi yang dikonsumsinya. "Sangat mengejutkan, dokter tidak melarang mengkonsumsi Tianshi. Teruskan minumnya kata dokter," ungkap Sinaga